Minggu, 08 Maret 2020

SIKAP ORANG 'ARIF KETIKA KHILAF


SIKAP ORANG 'ARIF KETIKA KHILAF
Senin, 09 Maret 2020
Muhammad Wasil, S.Pd.I
1
sikap orang 'arif ketika khilaf

من علامة الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

Diantara tanda sikap mengandalkan amal ialah berkurangnya harap kepada allah tatkala khilaf”

amal yang dimaksud disini adalah amal ibadah, seperti sholat dan dzikir. ada dua kelompok orang yang mengandalkan amal mereka atau menggantukan keselamatan diri mereka pada amal ibadah (buka pada Allah secara murni). mereka itu adalah para 'abid (orang yang tekun beribadah) dan para murid (orang yang menghendaki kedekan kepada Allah). golongan pertama menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya sarana untuk meraih surga dan menghindari siksa Allah. sementara itu, golongan kedua menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya cara yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah, menyingkap tirai penghalang hati, membersihkan keadaan batin, mendalami hakikat ilahiah (mukasyafah), dan mengetahui berbagai rahasia ketuhananlainnya.

kedua golongan ini sama-sama tercela, karena tindakan dan keinginan mereka itu terlahir dari dorongan nafsu dan sikap percaya diri lebih. mereka menganggap amal ibadah sebagai perbuatan diri mereka sendiri dan yaki amal ibadah itu pasti akan membuahkan hasil yang mereka inginkan.

berbeda halnya dengan orang-orang yang mengenal tuhan dengan baik ('arif). mereka tidak bergantung sedikitpun pada amal ibadah yana mereka lakukan. menurut mereka, pelaku hakiki dari semua amal ibadah itu ialah Allah Swt. semata, sedangkan merekan hanyalah objek penampakan dari semua tindakan dan ketentuan Allah.



dalam hikamh di atas, Ibnu 'Athaillah menyebut salah satu tanda orang-orang yang menggantukan keselamatan diri mereka pada amal ibadah yang mereka lakukan, buka kepada Allah secara murni. tujuannya, supaya setiap hamba bisa mengenali siapa dirinya dan termasuk golongan mana ia. apabila, disaat melakukan maksiat dan dosa, ia kehilangan harapan pada Allah yang maha rahmat yang akan memasukkannya ke surga, menyalamatkan dari adzab, dan mewujudkan semua keinginannya, ia dianggap termasuk dolongan 'abid atau murid. namun, apabila dirinya merasa nihil dan tak berdaya, ia termasuk golongan 'arif. jika melakukan kesalahan atau maksiat dan lalai, seseorang yang termasuk golongan 'arif akan melihat perbuatannya itu sebagai ketetapan dan takdir Allah atas dirinya.

demikian saat melakukan ketaatan atau mengalami nusyahadah (merasa melihat tuhan), golongan 'arif tidak memandang bahwa segala daya dan upayanyalah yang melakukan ketaatan dan kabajikan itu. baginya, tak ada beda saat benar ataupun salah, saat taat maupun khilaf, karena ia telah tenggelam dalam lautan tauhid. rasa takut dan harapnya dalm kondisi tetap dan seimbang. maksiat tidak pernah mengurangi rasa takutnya kepada Allah, dan ketaatanpun tidak menambah rasa harapnya kepadanya.

maka dari itu, siapa yang tidak mendapati tanda seperti ini dalam dirinya, hendaknya ia berusaha mancapai maqam (kedudukan) 'arif dengan banyak melakukan olah batin (riyadlah) dan wirid.

melalui hikmah diatas, Ibnu Athaillah ingin mendorong para salik (peniti jalan menuju Allah) agar menghindari sikap bergantung pada selain Allah, termasuk bergantung pada amal ibadah.

SIKAP ORANG 'ARIF KETIKA KHILAF

SIKAP ORANG 'ARIF KETIKA KHILAF Senin, 09 Maret 2020 Muhammad Wasil, S.Pd.I 1 sikap orang 'arif ketika khilaf من علامة ...