SIKAP ORANG 'ARIF KETIKA
KHILAF
Senin, 09 Maret 2020
Muhammad Wasil, S.Pd.I
Muhammad Wasil, S.Pd.I
1
sikap orang
'arif ketika khilaf
من علامة
الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل
“Diantara
tanda sikap mengandalkan amal ialah berkurangnya harap kepada allah tatkala
khilaf”
amal yang dimaksud disini adalah amal ibadah,
seperti sholat dan dzikir. ada dua kelompok orang yang mengandalkan amal mereka
atau menggantukan keselamatan diri mereka pada amal ibadah (buka pada Allah
secara murni). mereka itu adalah para 'abid (orang yang tekun beribadah) dan
para murid (orang yang menghendaki kedekan kepada Allah). golongan pertama
menganggap amal ibadah sebagai satu-satunya sarana untuk meraih surga dan
menghindari siksa Allah. sementara itu, golongan kedua menganggap amal ibadah
sebagai satu-satunya cara yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah,
menyingkap tirai penghalang hati, membersihkan keadaan batin, mendalami hakikat
ilahiah (mukasyafah), dan mengetahui berbagai rahasia ketuhananlainnya.
kedua golongan ini sama-sama tercela, karena
tindakan dan keinginan mereka itu terlahir dari dorongan nafsu dan sikap
percaya diri lebih. mereka menganggap amal ibadah sebagai perbuatan diri mereka
sendiri dan yaki amal ibadah itu pasti akan membuahkan hasil yang mereka
inginkan.
berbeda halnya dengan orang-orang yang mengenal
tuhan dengan baik ('arif). mereka tidak bergantung sedikitpun pada amal ibadah
yana mereka lakukan. menurut mereka, pelaku hakiki dari semua amal ibadah itu
ialah Allah Swt. semata, sedangkan merekan hanyalah objek penampakan dari semua
tindakan dan ketentuan Allah.
dalam hikamh di atas, Ibnu 'Athaillah menyebut
salah satu tanda orang-orang yang menggantukan keselamatan diri mereka pada
amal ibadah yang mereka lakukan, buka kepada Allah secara murni. tujuannya,
supaya setiap hamba bisa mengenali siapa dirinya dan termasuk golongan mana ia.
apabila, disaat melakukan maksiat dan dosa, ia kehilangan harapan pada Allah
yang maha rahmat yang akan memasukkannya ke surga, menyalamatkan dari adzab,
dan mewujudkan semua keinginannya, ia dianggap termasuk dolongan 'abid atau
murid. namun, apabila dirinya merasa nihil dan tak berdaya, ia termasuk
golongan 'arif. jika melakukan kesalahan atau maksiat dan lalai, seseorang yang
termasuk golongan 'arif akan melihat perbuatannya itu sebagai ketetapan dan
takdir Allah atas dirinya.
demikian saat melakukan ketaatan atau mengalami
nusyahadah (merasa melihat tuhan), golongan 'arif tidak memandang bahwa segala
daya dan upayanyalah yang melakukan ketaatan dan kabajikan itu. baginya, tak
ada beda saat benar ataupun salah, saat taat maupun khilaf, karena ia telah
tenggelam dalam lautan tauhid. rasa takut dan harapnya dalm kondisi tetap dan
seimbang. maksiat tidak pernah mengurangi rasa takutnya kepada Allah, dan
ketaatanpun tidak menambah rasa harapnya kepadanya.
maka dari itu, siapa yang tidak mendapati tanda
seperti ini dalam dirinya, hendaknya ia berusaha mancapai maqam (kedudukan)
'arif dengan banyak melakukan olah batin (riyadlah) dan wirid.
melalui hikmah diatas, Ibnu Athaillah ingin
mendorong para salik (peniti jalan menuju Allah) agar menghindari sikap
bergantung pada selain Allah, termasuk bergantung pada amal ibadah.
